Refleksi Akhir Tahun: Muhasabah dan Ikhtiar dalam Perspektif Islam

Pekalongan - Pergantian tahun merupakan momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah, yakni introspeksi diri atas perjalanan hidup yang telah dilalui. Dalam perspektif Islam, waktu adalah amanah yang sangat berharga. Setiap detik yang berlalu tidak hanya menandai bertambahnya usia, tetapi juga mendekatkan manusia pada saat pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Refleksi akhir tahun seharusnya tidak berhenti pada evaluasi pencapaian duniawi, melainkan juga menyentuh dimensi spiritual dan moral. Allah Swt. Berfirman:

 “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran” (QS. Al-‘Ashr: 1–3).

Ayat ini menegaskan bahwa waktu akan kehilangan maknanya jika tidak diisi dengan iman dan amal. Tahun yang telah berlalu menjadi cermin untuk menilai sejauh mana keimanan terjaga, amal kebaikan diperbanyak, dan kontribusi kepada sesama terus ditingkatkan.

Sepanjang perjalanan satu tahun, berbagai tantangan, perubahan, dan keterbatasan tentu dihadapi. Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Dalam Islam, kondisi tersebut dipahami sebagai bagian dari ujian kehidupan. Ujian bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan keimanan dan melatih kesabaran. Rasulullah saw. Bersabda:


“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini mengajarkan bahwa keberhasilan sejati terletak pada kemampuan belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat, muhasabah menjadi semakin penting agar manusia tidak terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Aktivitas yang padat, target yang berlapis, dan tuntutan profesional sering kali membuat orientasi akhir terlupakan. Islam mengingatkan bahwa kualitas amal lebih utama daripada kuantitas aktivitas. Setiap langkah perlu dilandasi kesadaran bahwa hidup bukan sekadar tentang pencapaian, tetapi tentang kebermanfaatan dan keikhlasan dalam berbuat.

Refleksi akhir tahun juga mengajak kita untuk menumbuhkan rasa syukur. Syukur bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui kesungguhan dalam menjalankan amanah. Setiap peran, pekerjaan, dan tanggung jawab yang diemban sejatinya adalah ladang ibadah jika dilandasi niat yang lurus. Dengan bersyukur, manusia diajarkan untuk tidak larut dalam keluhan, melainkan fokus pada peluang kebaikan yang masih terbuka. Menatap tahun yang baru, Islam mendorong umatnya untuk memperbarui niat (tajdid an-niyyah), memperkuat ikhtiar, dan memperdalam ketawakalannya. Harapan harus disertai doa, dan usaha harus dibingkai dengan kejujuran serta keistiqamahan. Semoga tahun mendatang menjadi waktu yang lebih berkah, produktif, dan bermakna, di mana setiap langkah tidak hanya bernilai keberhasilan dunia, tetapi juga bernilai ibadah di sisi Allah Swt., serta membawa maslahat luas bagi umat dan peradaban manusia seluruhnya, sebagai wujud tanggung jawab moral, spiritual, dan sosial sepanjang perjalanan hidup.

 

Kontributor:

Dr. Risdiani, S.Ag., M.Si.

Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Kutipan Al-Quran :

"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (Q.S Fatir: 5)"

Berita Lain