Seni Bertutur yang Kian Luntur

Pekalongan - Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan budaya. Kekayaan itu tidak hanya tercermin dalam ragam tarian, musik, atau busana tradisional, tetapi juga dalam tradisi lisan yang hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat. Salah satu warisan budaya lisan yang sarat makna adalah seni bertutur atau mendongeng. Melalui tuturan, nilai-nilai kehidupan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, menjaga bahasa dan tradisi bertutur sejatinya adalah upaya menjaga jati diri dan kebudayaan bangsa. Namun, di tengah semangat merayakan Bahasa Indonesia pada saat Bulan Bahasa, ada satu aspek kebahasaan yang justru perlahan mulai memudar dari kehidupan sehari-hari, yakni seni bertutur. Tradisi mendongeng yang dahulu akrab di ruang keluarga dan masyarakat kini semakin jarang dijumpai. Aktivitas yang dulu menjadi momen hangat sebelum tidur, ketika anak-anak mendengarkan cerita dari orang tua atau kakek-neneknya, kini nyaris terlupakan. Modernisasi dan perubahan gaya hidup telah menggeser kebiasaan tersebut.

Kesibukan orang tua menjadi salah satu faktor utama. Rutinitas pekerjaan yang padat, kelelahan fisik, serta tekanan ekonomi membuat waktu bersama anak semakin terbatas. Percakapan hangat dan cerita penuh makna tergantikan oleh keheningan atau interaksi singkat yang minim kedalaman. Padahal, dari tuturan sederhana itulah terbangun kedekatan emosional, rasa aman, serta ikatan batin yang kuat antara anak dan orang tua. Cerita yang disampaikan dengan penuh cinta sering kali menetap lebih lama dalam ingatan anak dibandingkan nasihat panjang yang disampaikan tanpa sentuhan emosi.

Di sisi lain, perubahan perilaku anak-anak di era digital turut mempercepat lunturnya seni bertutur. Gawai, video daring, dan gim digital kini menjadi teman sehari-hari anak. Dunia mereka berpindah dari ruang cerita menuju layar yang penuh gambar bergerak. Komunikasi yang dahulu dipenuhi tatapan mata, intonasi suara, dan ekspresi wajah kini digantikan oleh animasi dan suara mesin. Akibatnya, jarak emosional antara anak dan orang tua semakin terasa, sementara ruang dialog dan imajinasi semakin menyempit. Ironisnya, di tengah derasnya arus teknologi tersebut, seni bertutur justru memiliki kekuatan yang tidak tergantikan. Dongeng dan cerita lisan mengajarkan anak mengenali kebaikan dan keburukan, memahami kejujuran, kerja keras, keberanian, serta kasih sayang. Melalui alur cerita dan tokoh-tokohnya, anak belajar berempati, memahami perasaan orang lain, dan menimbang konsekuensi dari setiap tindakan. Nilai-nilai itu tidak diajarkan secara menggurui, tetapi tumbuh secara alami dalam kesadaran anak. Seni bertutur tidak Lebih dari sekadar hiburan, namun seni bertutur merupakan media pendidikan karakter yang hidup. Ia bekerja melalui rasa, imajinasi, dan kedekatan emosional. Cerita yang disampaikan dengan suara lembut dan penuh penghayatan mampu menanamkan nilai moral jauh lebih dalam dibandingkan larangan atau perintah yang kering makna. Di sanalah kekuatan dongeng: ia membentuk manusia yang beradab melalui cara yang halus dan manusiawi. Oleh karena itu, Mengembalikan tradisi mendongeng tidak selalu membutuhkan waktu lama atau cerita yang rumit. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk hadir, berbicara, dan mendengarkan. Sebab, dari tuturan sederhana itulah masa depan karakter anak dan keberlanjutan budaya bangsa dapat dijaga.

 

Kontibutor:

Lukman Alfaris, S.Pd., M.Pd.

(Dosen Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan)

 

Kutipan Al-Quran :

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah 11)

Berita Lain