Pengajian Silaturahmi 1447 H PCM Wiradesa: Perkuat Ukhuwah dan Dorong Amal Jariah


Pekalongan, 06April 2026 — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiradesa bersama Majelis Tabligh menggelar Pengajian Silaturahmi 1447 H di Masjid Sabilurrohman, Ahad (5/4/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan 17 Syawal 1447 H ini menjadi ajang halal bihalal sekaligus penguatan nilai keislaman dan kebersamaan warga Muhammadiyah.
Acara diawali dengan sambutan Ketua PCM Wiradesa, Abdul Basit Amin, M.Pd., yang menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri serta doa agar seluruh amal ibadah Ramadan diterima Allah SWT.
“Atas nama Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wiradesa, kami mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Semoga kita kembali pada fitrah dan diterima seluruh amal ibadah kita,” ujarnya.
Dalam sambutannya, ia menegaskan peran Muhammadiyah sebagai sarana perjuangan umat menuju keridhaan Allah serta pentingnya menjalankan amanah kepemimpinan dengan sungguh-sungguh. Ia juga menyoroti keberadaan amal usaha Muhammadiyah di Wiradesa di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial sebagai bentuk jariah yang terus memberi manfaat.
Selain itu, ia mengajak jamaah untuk berpartisipasi dalam pembangunan pesantren Muhammadiyah Wiradesa. Hingga saat ini, telah terkumpul dana sebesar Rp187 juta dan masih dibutuhkan Rp134 juta untuk menyelesaikan pembangunan tahap akhir berupa tiga ruang kelas.
“Kami mengajak seluruh jamaah untuk ikut ambil bagian dalam amal jariah ini melalui Lazismu dan layanan Muhammadiyah Wiradesa,” tambahnya.
Sementara itu, pengajian inti disampaikan oleh Dr. KH. Tafsir, M.Ag., yang memaparkan pokok-pokok penting terkait pemahaman keislaman secara kontekstual.
Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa ajaran Islam memiliki prinsip yang tetap, namun praktiknya dapat menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Ia juga menyoroti beberapa isu utama seperti zakat fitrah, konsep imsak, dan tradisi halal bihalal.
“Konsep syariah tidak berubah, tetapi praktiknya bisa menyesuaikan dengan kondisi dan budaya masyarakat,” ujarnya.
Terkait zakat fitrah, ia menjelaskan standar ukuran yang digunakan di Indonesia sekitar 2,5 kilogram, meskipun dalam praktik terdapat variasi pengukuran. Ia mengingatkan agar umat bersikap hati-hati dan tidak mengurangi kadar zakat.
Pada pembahasan imsak, ia menyinggung adanya perbedaan penentuan waktu antara praktik umum dan Muhammadiyah, yang disebabkan oleh perbedaan metode perhitungan waktu fajar.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga tradisi halal bihalal sebagai sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai saling memaafkan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Halal bihalal adalah tradisi baik yang harus dipertahankan karena mengandung nilai persatuan dan saling memaafkan,” tegasnya.
Selain itu, ia menyinggung pentingnya memahami hadis secara ilmiah melalui kajian sanad dan matan, serta mendorong jamaah untuk aktif bertanya dalam proses pembelajaran agama.
Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme jamaah. Selain menjadi ajang silaturahmi pasca-Idul Fitri, pengajian ini juga memperkuat kesadaran akan pentingnya amal jariah, kepedulian sosial, serta pemahaman Islam yang moderat dan kontekstual di tengah masyarakat.

Kutipan Al-Quran :

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-Imran: 139)"

Berita Lain