BEDAH BUKU KOMUNIKASI EFEKTIF, SOROTI PERAN APOTEKER DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN PASIEN

Monday, 19 October 2026

Oleh Humas UMPP

Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)

PEKALONGAN — Program Studi Sarjana Farmasi dan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), menyelenggarakan Bedah Buku Kefarmasian bertema “Optimalisasi Pelayanan Kefarmasian Berbasis Herbal dalam Penanganan Penyakit Degeneratif” pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Gedung Rektorat Lantai 7 UMPP ini menghadirkan Dr. apt. Moch. Saiful Bachri, M.Si., Ketua Program Studi S2 Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), sebagai narasumber.

Komunikasi efektif menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dan keselamatan pasien. Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam kegiatan bedah buku Komunikasi Efektif dalam Pelayanan Kefarmasian yang ditulis oleh Ni Putu Udayana Antari, Fitria Megawati, Ryo Hastama, dan Anak Agung Vivi Noviyanti, terbitan Deepublish tahun 2023.

Buku setebal 67 halaman tersebut membahas pentingnya komunikasi antara tenaga kefarmasian dan pasien, mulai dari teori komunikasi, pelayanan informasi obat di apotek, hingga hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan komunikasi.

Salah satu temuan yang dibahas adalah pentingnya kemampuan komunikasi interpersonal petugas apotek. Hasil survei terhadap 100 pengunjung apotek di Denpasar menunjukkan bahwa 45 persen responden merasa memahami penjelasan obat yang diberikan, sedangkan 51 persen menyatakan puas terhadap pelayanan yang diterima.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keramahan dan kesopanan petugas perlu disertai kemampuan menyampaikan informasi secara jelas serta memastikan pasien benar-benar memahami aturan penggunaan obat.

Selain keterampilan petugas, suasana apotek, kondisi pasien, tingkat pemahaman terhadap kesehatan, dan kesempatan untuk bertanya turut memengaruhi proses komunikasi. Oleh karena itu, pelayanan kefarmasian perlu didukung lingkungan yang nyaman, privasi yang terjaga, serta komunikasi dua arah antara apoteker dan pasien.

Dalam pembahasan buku, peserta juga diajak memahami pentingnya pemberian informasi obat secara lengkap, meliputi nama obat, dosis, cara penggunaan, indikasi, kontraindikasi, efek samping, penyimpanan, stabilitas, dan interaksi obat.

Melalui kegiatan bedah buku ini, diharapkan peserta dapat mengambil pelajaran mengenai pentingnya komunikasi yang berorientasi pada pasien. Salah satu praktik yang dapat diterapkan adalah meminta pasien mengulangi penjelasan aturan penggunaan obat dengan bahasanya sendiri untuk memastikan informasi telah dipahami.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menelaah hasil penelitian secara kritis, termasuk keterbatasan metode dan perlunya penggunaan referensi ilmiah yang relevan. Dengan demikian, buku tersebut dapat menjadi bahan diskusi dan pembelajaran dalam mengembangkan pelayanan kefarmasian yang komunikatif, aman, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

Saksikan dokumentasi Kuliah Umum Kefarmasian UMPP melalui channel YouTube berikut ini : https://www.youtube.com/live/SczrEvUTEOw?si=9DSnHHAM-2H1I22S