Pasien DM Semakin Banyak, Saatnya Apoteker dan Teknologi Digital Bergerak Bersama

Pekalongan - Diabetes melitus (DM) bukan lagi sekadar penyakit kronis, melainkan masalah kesehatan serius yang terus meningkat di Indonesia. Angka kematian dan kesakitan akibat diabetes bahkan menempati peringkat tertinggi dibandingkan penyakit tidak menular lainnya. Ironisnya, meskipun jumlah penyandang diabetes terus bertambah, kesadaran untuk menjalani pengobatan secara rutin masih sangat rendah. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar dua pertiga penyandang diabetes di Indonesia yang menjalani pengobatan. Lebih mengkhawatirkan lagi, hampir 90 persen pasien diabetes memiliki kesadaran yang rendah akan pentingnya minum obat secara teratur. Kondisi ini membuat diabetes semakin sulit dikendalikan dan meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, hingga kebutaan.

Prevalensi diabetes tipe 2 di Indonesia diprediksi mencapai lebih dari 10 persen penduduk. Jawa Tengah sendiri termasuk provinsi dengan kasus diabetes tertinggi. Di tingkat layanan kesehatan, berbagai permasalahan muncul, salah satunya adalah kejadian efek samping obat atau adverse drug reaction (ADR) pada pasien rawat jalan yang masih cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pengobatan diabetes bukan hanya soal pemberian obat, tetapi juga membutuhkan pemantauan yang berkelanjutan. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kepatuhan pasien. Pasien diabetes dengan kepatuhan rendah terbukti memiliki kualitas hidup yang lebih buruk. Faktor usia di atas 40 tahun dan tingkat pendidikan yang rendah semakin memperbesar risiko ketidakpatuhan. Ketika pasien tidak patuh pada resep dokter, target pengobatan sulit tercapai dan kesejahteraan pasien pun menurun.

Di sinilah peran apoteker menjadi sangat penting. Sesuai dengan regulasi Kementerian Kesehatan, apoteker memiliki tanggung jawab melakukan Pemantauan Terapi Obat (PTO). Sayangnya, selama ini PTO lebih banyak diterapkan pada pasien rawat inap, sementara pasien rawat jalan yang jumlahnya jauh lebih besar, belum mendapatkan perhatian optimal. Padahal, sebagian besar pasien diabetes menjalani pengobatan jangka panjang secara rawat jalan. Penerapan PTO pada pasien rawat jalan menjadi kebutuhan mendesak. Dengan pemantauan yang baik, apoteker dapat mendeteksi ketidakpatuhan, mengidentifikasi efek samping obat, serta menyesuaikan terapi sesuai kondisi pasien. Tantangannya adalah keterbatasan jumlah apoteker, waktu pelayanan, dan biaya operasional.

Di tengah tantangan tersebut, teknologi digital menawarkan solusi yang menjanjikan. Aplikasi mobile untuk pemantauan terapi obat memungkinkan apoteker memantau kepatuhan pasien secara real-time tanpa harus bertemu langsung. Pasien pun dapat berkonsultasi dari rumah, menghemat waktu dan biaya, serta tetap mendapatkan pendampingan profesional.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis teknologi yang dikombinasikan dengan peran aktif apoteker mampu meningkatkan kepatuhan minum obat, memperbaiki kontrol gula darah, serta menurunkan kejadian efek samping obat. Pemantauan yang efektif juga membantu mendeteksi masalah kesehatan lebih dini dan meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes. Indonesia sebenarnya sudah memiliki sejumlah inovasi aplikasi kesehatan untuk pasien diabetes, baik sebagai media edukasi maupun pemantauan kadar gula darah. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan layanan kefarmasian, khususnya peran apoteker dalam PTO.

Selain aspek teknologi, keberhasilan pengelolaan diabetes sangat dipengaruhi oleh self-efficacy atau keyakinan pasien terhadap kemampuannya mengelola penyakit. Self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri untuk melakukan suatu tindakan dan mencapai hasil yang diharapkan. Pada pasien DM, self-efficacy yaitu pada keyakinan pasien bahwa dirinya mampu mengelola penyakit diabetes secara mandiri. Contoh sederhana, yaitu jika pasien memiliki self-efficacy tinggi: “Saya yakin bisa minum obat setiap hari dan mengatur makan, meskipun sedang sibuk.” Jika pasien memiliki self-efficacy rendah: “Saya tahu harus minum obat, tapi rasanya sulit dan saya tidak yakin bisa melakukannya terus.” Pasien dengan self-efficacy tinggi cenderung lebih patuh terhadap pengobatan, menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Sebaliknya, self-efficacy yang rendah berhubungan erat dengan kontrol gula darah yang buruk dan meningkatnya risiko komplikasi.

Oleh karena itu, pengelolaan diabetes di masa depan tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan konvensional semata. Kolaborasi antara apoteker, tenaga kesehatan lain, dan teknologi digital menjadi kunci untuk meningkatkan kepatuhan, keselamatan penggunaan obat, serta kualitas hidup penyandang diabetes. Sudah saatnya pemantauan terapi obat berbasis aplikasi mobile menjadi bagian dari layanan kesehatan rutin bagi pasien diabetes rawat jalan. Dengan dukungan teknologi dan peran aktif apoteker, pengendalian diabetes bukan hanya lebih efektif, tetapi juga lebih manusiawi dan berkelanjutan.

 

Kontributor:

Ainun Muthoharoh

(Mahasiswa Prodi S3 Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta / Dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan)

 

Kutipan Al-Quran :

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (12). Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)(13). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik (14). (QS. Al-Mu’minun : 12 – 14)

Berita Lain